Daftar Buku

Selepas Bapakku Hilang

(0 byte)

Para rejim otoritaritarian, yang mencoba membunuh puisi, membakar buku, memenjarakan dan atau bahkan melenyapkan penyairnya, akan selalu menghadapi situasi paradoksal dan ambivalen. Celakalah mereka, para rejim otoritarian. Sebab puisi tidak bisa dibunuh, puisi tak pernah mati-mati. Buku memang bisa dinyatakan terlarang secara hukum dan dihambat beredar; bahkan bisa di-sweeping dan dibakar. Dan penyair, bagaimana dengan penyairnya? Penyair memang bisa ditangkap dan dipenjarakan. Penyair bisa dihilangkan secara paksa atau bahkan dilenyapkan tanpa jejak. Tapi penyair bisa melahirkan anak non genetis --adalah mereka-mereka yang kesadarannya di provokasi oleh pikiran kritis dan ide-ide pemberontakan penyair-- dan anak-anak genetis yang bisa meneruskan perjuangan bapaknya. Penyair bisa dan sangat bisa dihilangkan secara paksa, tapi bagaimana ingatan orang dan keluarga penyair akan kenyataan penghilangan paksa atas sang penyair tersebut? Apakah sang Tiran bisa mengontrol betul ingatan orang dan keluarga penyair agar menghapus ingatan dengan jalan pelupaan dan melupakan?


Barangkali itulah seretetan renungan yang meleset manakala membongkar sejarah keluarga dan pribadi Fitri Nganti Wani. Simpanlah berbagai renungan itu, untuk menyimak buku puisi Wani. Sebab buku puisi ini boleh dikatakan sebagai usaha Wani untuk menceritakan kisah hidupnya sebelum dan setelah bapaknya dihilangkan secara paksa, walaupun ada juga beberapa puisi yang mengangkat kisah cinta anak remaja. Pendek kata, buku ini juga bisa dianggap sebagai usaha untuk memorabilia Wani atas penghilangan paksa Pekerja Sastra dan Aktivis Jaker-PRD Wiji Thukul, serta dampak-dampak ikutan yang harus ditanggungkan oleh keluarganya (2 orang anaknya: Wani dan Fajar, serta Sipon istrinya, dan keluarga lainnya) akibat penghilangan paksa dan stigmatisasi yang dilekatkan kepada Thukul dan keluarga.


Boleh dikata, puisi-puisi Wani adalah rekam jejak atas peristiwa itu, mendedahkan luka derita traumatis dan sekaligus menerakan perkembangan psikologis dan kesadaran kritis Wani paska penghilangan paksa bapaknya tersebut. Buku puisi ini adalah bagaimana Wani mengkristalkan identitas dirinya dan bagaimana cara dia menghadap dunianya serta memaknai realitas yang terpampang di depannya. Bagaimana dia bersikap terhadap silang sengkarut pensoalan sosial politik masyarakatnya, ketertindasan, kemiskinan, pelanggaran HAM, relasi gender yang tidak setara, dan seambreg persoalan lainya. Di sisi lain, Wani juga mengeksplorasi tema-tema pembentukan identitas diri di masa remaja, masa-masa sekolah menengah dan kuliah, percintaan remaja dan cinta terhadap sesama manusia.


Selepas Bapakku Hilang adalah buku kumpulan puisi Fitri Nganti Wani, yang memuat 74 puisi. Puisi-puisi ini ditulis Wani sejak masa kanak-kanak, saat menginjak remaja hingga menjadi mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Buku kumpulan puisi dwibahasa --Indonesia dan Inggris-- ini, disyunting oleh Y. Tri Subagya, terjemahan puisi ke Bahasa Inggris oleh Richard Curtis, Terjemahan kata Pengantar dalam Bahasa Indonesia oleh Hersri Setiawan dan Endah Pancaningsih Curtis. Buku ini dilengkapi dengan 3 kata pengantar, yang masing-masing ditulis oleh Barbara Hetley, Noor Hidayat Poso dan Richard Curtis. Buku ini diterbitkan oleh PUSdEP Universitas Sanata Dharma atas pendanaan dari Creative Art and Humanities Charles Darwin University.
print (1K)printer friednly version


1 2 3 4 next»
Pencarian Bulletin

PUSdEP, Universitas Sanata Dharma
Jl. Gejayan Mrican, Tromol Pos 29, Yogyakarta 55002, Indonesia.
Telp.62-0274 513301 Ext 1501 Fax: 62 0274 562383.
Email: pusdep@staff.usd.ac.id / pusdepusd@yahoo.com